NIKAH MISYAR

Nikah misyar.[Misyar adalah shighat mubalaghah (deskripsi hiperbolis) untuk menggambarkan laki-laki yang sering bepergian. Barangkali perkawinan ini disebut demikian karena suami tidak tinggal menetap ditempat isterinya,akan tetapi ia selalu berpindah-pindah sering beerpgian) dan hanya mengunjunginya sewaktu-waktu]

Nikah misyar termasuk model pernikahan yang terbilang baru di beberapa negara. Difinisi singkatanya,ia adalah “ akad perkawinan antara seseorang pria dengan wanita yang di lakukan sesuai syariat dan memenuhi syarat serta rukun rukunnya .hanya saja di dalam nya pihak wanita dengan kerelaan hati melepaskan beberapa haknya atas suami, seperti tempat tinggal,nafkah, menetap bersamanya ,berbagai dengan istri-istri yang lain ,dan sejenisnya “

Faktor terpenting yang mendorong kemunculan dan penyebaran fenomena perkawinan seperti ini di beberapa negara adalah adanya sejumlah wanita yang mencapai usia kawin dan telah cukup namun belum kawin.juga (perawan tua),atau mereka menikah namun kemudian menjanda muda entah karena di tinggal mati suaminya atau di cerai ,di tambah lagi dengan naluri seksual dan kebutuhan perempuan terhadap lelaki ,ini dari pihak perempuan .

Sementara dari pihak laki-laki ,mereka terdorong melakukan perkawinan model ini karena hasrat yang menggebu-gebu untuk melakukan hubungan seksual dan tidak merasa cukup dengan satu istri saja .namun kemampuan finasiyal mereka tidak mencukupi untuk melangsungkan perkawinan normal dengan segala konsekuensinya ,seperti memberikan mahar ,nafkah ,tempat tinggal,dan sejenisnya .dalam kasus lain ,laki-laki terdorong melakukan perkawinan model ini karena istri pertama menolak jika ia menikah lagi .atau di dorong oleh ambisi untuk menguasai ke kayaan si wanita- jika ia kaya sambil memanfaatkan ketidak –inginan siwanita untuk berpisah dengan sehingga wanita tersebut bersedia mengucurkan kekayaannya (sementara pihak laki-laki bisa mencicipinya tanpa perlu membayar berbagai konsekuensi pernikahan normal ) dan masih banyak lagi faktor yang mendorong orang lain untuk melakukan perkawinan model ini .

Bagaimana hukum perkawinan model ini dari sudut pandang syariat ?

dari definisi di atas nampak jelas bahwa nikah misyar adalah akad perkawinan yang membuat syarat yang mengharuskan penghapusan beberapa hak istri atau suami ,sehingga lebih sesuai apa bila di bahas pada pembahasan mengenai syarat-syarat akad
kalangan ahli fikih kontemporer berbeda pendapat mengenai keabsahan perkawinan model ini dalam tiga arus pendapat ,259 [Mustajidat fi Az-Zawaj Wa At-Thalaq karya Usamah Al Asyqar,hlm:174 dan lain sebagainya (dengan beberapa suntingan)]

pertama, boleh namun mengandung kemakruhan ,alasannya ,ini adalah ada yang memenuhi syarat dan rukun perkawinan yang di tetapkan syara’dan tidak mengarah pada keharaman sebagai mana nikah tahlil dan mut’ah yang terpokok di dalam nya ,kedua pasangan sama-sama sepakat dan menerima jika istri tidak memperoleh hak tinggal secara menetap ,atau tidak menikmati bagian yang di peroleh istri-istri madu ,atau tidak menerima nafkah,dan sejenisnya .

Dalilnya ,umul mukminin saudah binti zam’ah dalam sebuah riwayat yang shahih memberikan giliran harinya kepada madunya ,Aisyah RA .ketika ia udah lanjut usia .sehingga “Rasulullah SAW pun memberikan bagian dua hari untuk Aisah RA ;giliran sendiri dan giliran saudah .”260[Hadits Shahih,ditakhrij oleh Al Bukhari (5212) dan Muslim(1463]

Hadits ini menujukan bahwa istri berhak untuk menggugurkan hak yang telah di berikan syariat kepadanya ,misalnya tinggal bersama suami dan nafkah .

Kemudian, perkawinan adalah pemenuahan naluri fitrah pada perempuan dan penjagaan diri dari kubang kenistaan (pezinaan ) ,dan dengan model perkawinan ini ia pun tetap bisa memperoleh anak yang di dambakannya .

Adapun penghukuman perkawinan ini sebagai sesuatu yang mubah namun makruh mengacu pada fakta keminiman kesempatan dalam perkawinan model ini untuk mewujudkan tujuan tujuan yang di kehendaki syariat (maqashid syariah ) dalam membina rumah tangga ,misalnya ketenangan jiwa ,pengasuan istri dan anak-anak ,perlindungan keluarga secara maksimal, dan pendidikan yang solid .

Catatan ; Ada sebagian kalangan pendukung pendapat ini yang menyatakan bahwa persyaratan nafkah dan tinggal serumah adalah sesuatu yang signifikan .masih menurut mereka ,istri memiliki hak untuk melepaskan secara sukarela

Kedua ,haram sebagai alasan berikut;

1- Perkawinan model ini bertentangan dengan tujuan-tujuan perkawinan

yang bersifat sosial ,psikologis.dan syariat ,seperti pemenuahan rasa kasi sayang ketentraman ,menjaga keturuan dan perawatannya semaksimal mungkin ,pemenuhan hak-hak dan kewajiban yang menjadi konsekuensi akad nikah yang sah (normal ) .selain itu yang menjadi pertimbangan dalam akad nikah adalah tujuan dan subtansinya ,bukan redaksi semata dan kulit luarnya .

2- Ia bertentangan dengan sistem perkawinan yang di tawarkan oleh
Syariat dan kaum muslimin pun sebelumnya tidak pernah mengenal model demikian dalam perkawinan mereka .

3- Ia membuat syarat –syarat yang bertentangan dengan subtansi akad .

4. Selain itu ,ia rentan menjadi pintu gerbang kebobrokan dan kerusak
Dan kerusakan .karena ia menganggap remeh nilai mahar ,suami tidak mengemban tanggung jawab keluarga ,dan seringkali perkawinan ini di lakukan secara sirri ( rahasia ),atau tanpa kehadiran wali ( keluarga ).

ketiga ,abtain ( tidak memberikan keputusan hukum atas masalah ini keputusan ini di nukil dari Allamah Ibnu Utsaimin rahimahhullah .

Saya katakan ;

Pendapat yang rajih adalah bahwa yang menjadi pangkal perselisian adalah penajuan syarat untuk mengugurkan kewajiban menafkahi dan tinggal bersama istri ,serta pengaruhnya terhadap keabsahan akad .sudah di jelaskan di atas bahwa sayarat akad nikah memiliki 3 kategori ; (1) syarat –syarat yang sesuai dengan tujuan akad dan tujuan syariat ,(2) syarat –syarat yang bertentangan dengan tujuan akad dan hukum (kententuan allah ) dan ( syarat –syarat yang tidak di perintahkan maupun dilarang oleh allah dan persyaratannya mengandung unsur kemasalahatan bagi salah satu pihak .

Persyaratan pengguguran nafkah ,ketentraman ,dan kewajiban sejenis yang di tetapkan syariat atas suami sermasuk syarat-syarat ilegal (batal) dan merujuk pada pendapat yang kami rajih kan dalam kasus akad yang di sertai syarat ilegal 261 [Lihat Bab Pengajuan Persyaratan Dalam Akad Nikah sebelumnya] ,maka penulis katakan ;akad nikah model ini tetap sah dan perkawinannya pun legal namun syaratnya gugur ,dengan demikian ,perkawinan ini tetap mengimplikasikan pengaruh-pengaruh syariat berupa penhalalan seggama,kepastian nasab ,kewajiban nafkah dan pembagian yang adil (jika poligami ) .dalam hal ini ,istri berhak menuntut,namun tidak masalah jika ia dengan sukarela melepaskan hak-hak ini tanpa syarat ,sebab itu merupakan hak nya .

Hanya saja .perkawinan model ini tidak aman dari bahaya ,sehingga ia di makruhkan dan tidak di perluas prakteknya ,dan ini merupakan pendapat kompromis dalam menghukumin nikah mayar .wallahu a’lam

Sumber : Kitab Shahih Fiqih Sunnah ,Jilid 3,hal : 246
Penerbit : Pustaka Azzam
Pengarang : Syaikh AbuMalik Kamal bin As-Sayyid Salim
Kitab ini DiTahqiq oleh : Syaikh Nashirudin Al AlBani
Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Syaikh Muhammad bin Shalil Al Utsaimin

About these ads

14 thoughts on “NIKAH MISYAR

  1. ana benar2 bru dengar ttg nikah misywar ini. wktu tarbiyah dan daurah gak pnah dibahas istilah nikah misywar ini. yg ana tahu cman nikah mut’ah. jazakaLlah khair ats

  2. Semoga dengan fatwa ini tidak akan menjadikan fitnah yang didasarkan kepada hawa nafsu belaka,tetapi dikaji kedalam ilmu agama yang ilmiah.

  3. Praktik “pernikahan dengan niat bercerai sesudahnya” ini benar-benar naif, dan lebih naif lagi dilegalkan oleh fatwa ulama.

  4. NIkah misyar sejatinya tak jauh beda dengan prostisusi, prostisusi yang kemudian terlegalkan oleh fatwa ulama. para lelaki Saudi yang melakukan praktik ini tidak lagi memperhatikan undang-undang yang berlaku terkait pernikahan, karena mereka justru menyandarkan perbuatan mereka terhadap salah satu fatwa ulama yang melegalkannya. Mereka melakukan pernikahan ini dengan bersandar pada fatwa ulama yang membolehkan nikah dengan niat bercerai (nikah bi niyyat at-thalaq).

    Setelah diperiksa dan ditilik dari semua segi, hingga muncul kasus Indonesia Menjadi Obyek “Wisata Seks” Terpopuler Bagi Turis Arab. Hendaknya mufti Saudi mengeluarkan fatwa yang menyikapi maraknya fenomena “pernikahan” para lelaki Saudi yang diniatkan adanya talak (cerai) setelahnya (nikah bi niyyat at-thalaq). Bukankah al-fatwa yataghyyar bi taghyyuri zaman wal makan wal urf wal adah!?…

  5. Praktik “pernikahan dengan niat bercerai sesudahnya” ini benar-benar naif, dan lebih naif lagi dilegalkan oleh fatwa ulama.

  6. Dirubah aja tuh fatwanya… udah ga etis, melegalkan sesuatu yang bobrok. bukankah al-fatwa yataghyyar bi taghyyuri zaman wal makan wal urf wal adah?…

  7. Nikah misyar sejatinya tak jauh beda dengan prostisusi, prostisusi yang kemudian terlegalkan oleh fatwa ulama. para lelaki Saudi yang melakukan praktik ini tidak lagi memperhatikan undang-undang yang berlaku terkait pernikahan, karena mereka justru menyandarkan perbuatan mereka terhadap salah satu fatwa ulama yang melegalkannya. Mereka melakukan pernikahan ini dengan bersandar pada fatwa ulama yang membolehkan nikah dengan niat bercerai (nikah bi niyyat at-thalaq).

    Setelah diperiksa dan ditilik dari semua segi, hingga muncul kasus Indonesia Menjadi Obyek “Wisata Seks” Terpopuler Bagi Turis Arab. Hendaknya mufti Saudi mengeluarkan fatwa yang menyikapi maraknya fenomena “pernikahan” para lelaki Saudi yang diniatkan adanya talak (cerai) setelahnya (nikah bi niyyat at-thalaq). Bukankah al-fatwa yataghyyar bi taghyyuri zaman wal makan wal urf wal adah!?…

  8. Bin baz ini otaknya mesum…

  9. komentar2 lama juga ditampilin donk…

  10. BACA NIH:…

    Minggu, 19/04/2009 17:06 WIB Cetak | Kirim

    Riyadh, Naif. Ketika Indonesia menjadi obyek dakwah dan ladang persemaian gerakan-gerakan Islam yang berasal dari negara-negara Arab, di sisi yang lain Indonesia juga menjadi obyek “wisata seks” yang sangat populer bagi turis-turis Arab.

    Dan lebih naifnya lagi, praktik ini dilegalkan oleh salah satu fatwa ulama mereka. Salah satu ulama yang melegalkan praktik demikian adalah Syaikh Abdullah bin Baz, ulama yang menjadi rujukan penting kalangan salafi-wahhabi.

    Baru-baru ini, Kepala Bidang Pembimbingan Masyarakat (Qism ar-Ra’aya) Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta mendesak Badan Pembesar Ulama (Hay’ah Kubbar al-Ulama) kerajaan petro dollar tersebut untuk mengeluarkan fatwa yang menyikapi maraknya fenomena “pernikahan” para lelaki Saudi dengan perempuan Indonesia “yang diniatkan adanya talak (cerai) setelahnya” (nikah bi niyyat at-thalaq).

    Khalid al-Arrak, Kepbid Bimas Kedutaan Saudi di Jakarta menyatakan, pihaknya khawatir jika fenomena yang marak di kalangan lelaki negaranya itu kian hari kian merebak dan tak dapat dikontrol.

    Harian Saudi Arabia al-Wathan (16/4) melansir, fenomena “nikah dengan niat talak di belakangnya” yang dilakukan oleh para lelaki Saudi dengan perempuan Indonesia itu sangat populer.

    Al-Arrak menyatakan, para lelaki Saudi yang melakukan praktik ini tidak lagi memperhatikan undang-undang yang berlaku terkait pernikahan, karena mereka justru menyandarkan perbuatan mereka terhadap salah satu fatwa ulama yang melegalkannya. “Mereka melakukan pernikahan ini dengan bersandar pada fatwa ulama yang membolehkan nikah dengan niat bercerai (nikah bi niyyat at-thalaq),” ungkap al-Arrak.

    Sayangnya, dari pihak perempuan Indonesia sendiri menjadikan praktik ini sebagai ladang pekerjaan. Lagi-lagi kemiskinan dan susahnya hidup yang melilit mereka adalah dendang usang kaset lawas yang dijadikan dalih. “Perempuan Indonesia beranggapan jika menikah dengan lelaki Saudi, sekalipun kelak akan diceraikan, dipandang sebagai solusi sesaat untuk mendulang uang dan jalan pintas untuk dapat keluar dari jerat kemiskinan,” tambah al-Arrak.

    Yang lebih disayangkan lagi, di Indonesia sendiri banyak tersebar kantor-kantor “siluman” yang memfasilitasi praktik pernikahan edan ini, lengkap dengan modin, saksi, dan wali palsu dari calon pengantin perempuan.

    Kedutaan Saudi di Jakarta sendiri telah mencatat setiaknya 82 pengaduan pada tahun lalu, ditambah 18 pengaduan tahun ini yang diajukan oleh para “mantan istri” perkawinan ini, yang ternyata menghasilkan anak.

    Meski tidak tercatat secara resmi di Kedutaan, namun pihaknya siap untuk memfasilitasi anak-anak yang diadukan itu untuk dapat pergi ke Saudi, negara bapak mereka berasal, dengan memberikan tiket dan visa masuk gratis.

    Tetapi, dalam banyak kasus, para bapak mereka (pria Saudi) tidak akan mengakui kalau anak-anak tersebut adalah darah daging mereka, karena tidak adanya bukti-bukti legal dan lengkap dari pihak keluarga perempuan di Indonesia.

    Salah seorang korban dari paktik ini, Isah Nur (24), mengaku pernah dinikahi pria Saudi saat ia berusia 16 tahun. Sekarang ia telah menjanda, dan meneruskan profesi lamanya sebagai “istri yang dinikahi sesaat untuk kemudian diceraikan” dengan menjalani kehidupan malam.

    Lebih naif lagi, Isah mengaku senang saat dulu dinikahi pria Saudi tersebut, karena orang-orang Saudi dipercaya memiliki dan membawa berkah. “Umat Islam di Indonesia menganggap orang Mekkah dan Madinah memiliki dan membawa berkah,” katanya.

    Isah juga menambahkan, mayoritas pria Saudi yang melakukan praktik pernikahan ini menyetorkan mahar sekitar Rp. 3 hingga 6 juta, atau setara dengan RS. 2300, jumlah yang sangat kecil sekali bagi ukuran pendapatan orang-orang Saudi, sebanding dengan uang saku anak sekolah. Namun, bagi penduduk Indonesia, jumlah tersebut sangat besar.

    Pada mulanya, Isah dan keluarganya mengaku sama sekali tidak mengetahui jika pria Saudi yang menikahinya itu hanya akan menikmati tubuhnya saja, dengan berpedoman pada fatwa bolehnya “menikah dengan niat bercerai”.

    Pernikahan antara mereka sendiri hanya berlangsung beberapa saat waktu saja, untuk kemudian sang pria Saudi itu meninggalkan Isah bersama seorang anak kecil hasil hubungan mereka.

    “Saat meninggalkan kami, pria itu hanya memberikan uang Rp. 3 juta,” tutur Isah.

    Kedubes Saudi juga menjelaskan, jika kasus pernikahan model demikian hanya terjadi pada 20% populasi pernikahan pria Saudi dengan wanita Indonesia.

    “Selebihnya resmi dan legal,” tutur al-Arrak.

    Praktik “pernikahan dengan niat bercerai sesudahnya” ini benar-benar naif, dan lebih naif lagi dilegalkan oleh fatwa ulama. Indonesia adalah tempat terpopuler untuk obyek praktik ini bagi orang-orang Arab, karena dipandang paling murah dan paling mudah. Praktik demikian sejatinya tak jauh beda dengan prostisusi, prostisusi yang kemudian terlegalkan oleh fatwa ulama, dan salah satu lokasi wisata favorit bagi turis-turis Arab untuk melegalkan praktik tersebut adalah kawasan puncak dan sekitarnya. (wtn/arby/L2)

    Catatan: Kutipan Fatwa:

    مشايخنا الاجلاء و طلبة العلم الفضلاء السلام عليكم ورحمة الله .

    افتى الشيخ ابن باز رحمه الله بجواز زواج من اضمر في نيته طلاق زوجته بعد انقضاء مدة معينة و هذا نص الفتوى :

    سمعت لك فتوى على أحد الأشرطة بجواز الزواج في بلاد الغربة ، وهو ينوي تركها بعد فترة معينة ، كحين انتهاء الدورة أو الابتعاث ، فما الفرق بين هذا الزواج وزواج المتعة؟

    -الجواب: نعم لقد صدرت فتاوى من اللجنة الدائمة وأنا رئيسها بجواز النكاح بنية الطلاق إذا كان ذلك بين العبد وبين ربه ، إذا تزوج في بلاد غربة ونيته أنه متى انتهى من دراسته ، أو من كونه

    موظفا وما أشبه ذلك أن يطلق فلا بأس بهذا عند جمهور العلماء ، وهذه النية تكون بينه وبين الله -سبحانه- وليست شرطا.

    والفرق بينه وبين المتعة: أن نكاح المتعة يكون فيه شرط مدة معلومة كشهر أو شهرين أو سنة أو سنتين ونحو ذلك فإذا انقضت المدة المذكورة انفسخ النكاح. هذا هو نكاح المتعة الباطل ، أما

    كونه تزوجها على سنة الله ورسوله ولكن في قلبه أنه متى انتهى من البلد سوف يطلقها ، فهذا لا يضره وهذه النية قد تتغير وليست معلومة وليست شرطا ، بل هي بينه وبين الله فلا يضره ذلك ، وهذا

    من أسباب عفته عن الزنى والفواحش وهذا قول جمهور أهل العلم حكاه عنهم صاحب .

    هل يمكن ان يخبرنا مشايخنا الاجلاء من من علماء السلف او الصحابة قال بجواز الزواج بنية الطلاق

    و جزاكم الله خيرا بارك الله فيكم .

    sumber: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-37133.html

  11. bin baz ini ngajarin pembodohan umat.
    Fatwanya ga jelas…. malah melegalkan nikah misyar.

  12. Nikah Misyar adalah sah secera hukum,Nikah Misyar tidak diniatkan untuk Cerai,Nikah Misyar adalah untuk Menangani Kasus-Kasus tertentu dalam Merelakan Kehilangan Hak.

    Cobalah Kalian,baca lagi atas Tulisan diatas….

    Janganlah berfikir perbuatan oknum Seseorang memaknakan bahwa Ajarannya memang mengajarkan seperti itu.

    Misalnya : kejadian nyata terjadi di tetangga kampung ana,ada seorang Kiayai Pesantren yang telah menggauli banyak Santrinya,Apakah itu pertanda bahwa Ajaran di Pesantren mengajarkan seperti itu?

    Adapun mengenai pendapat,saya memilih pendapat Syekh Abu Malik yaitu Nikah Misyar Makruh dan tidak diperluas prakteknya.

  13. Aduhhh jadi bagai mana ini,,,,menurut pendapat yg mashurr dari kalagan Ulama,,,Tolonggg—Tolongg

    Hadeuhh Ada-ada Saja ini,,,,Aduhhhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s