KEMUNGKARAN ACARA MAULID YANG DIINGKARI OLEH PENDIRI NU KIYAI MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI RAHIMAHULLAH

Tidak diragukan lagi bahwa melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang tidak dikenal oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Tholib tidak pernah merayakannya, bahkan tidak seorang sahabatpun.

Padahal kecintaan mereka kepada Nabi sangatlah besar…mereka rela mengorbankan harta bahkan nyawa mereka demi menunjukkan cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula tidak diragukan lagi bahwasanya para imam 4 madzhab (Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam As-Syafi’i, dan Al-Imam Ahmad) juga sama sekali tidak diriwayatkan bahwa mereka pernah sekalipun melakukan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karenanya sungguh aneh jika kemudian di zaman sekarang ini ada yang berani menyatakan bahwa maulid Nabi adalah sunnah, bahkan sunnah mu’akkadah??!! (Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tokoh sufi Habib Ali Al-Jufri, ia berkata, “Maulid adalah sunnah mu’akkadah, kita tidak mengatakan mubah (boleh) bahkan sunnah mu’akkadah, silahkan lihat di

Tentu hal ini menunjukkan kejahilan Habib Al-Jufri, karena sunnah mu’akkadah menurut ahli fikih adalah : sunnah yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditekankan oleh Nabi serta dikerjakan oleh Nabi secara kontinyu, seperti sholat witir dan sholat sunnah dua raka’at sebelum sholat subuh. Jangankan merayakan maulid berulang-ulang, sekali saja tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pernyataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah sunnah mu’akkadah melazimkan kelaziman-kelaziman yang buruk, diantaranya :

Pertama : Perayaan maulid Nabi termasuk dari bagian agama yang dengan bagian tersebut maka Allah menyempurnakan agamaNya. Jika ternyata perayaan maulid Nabi baru muncul ratusan tahun setelah wafatnya Nabi, menunjukkan bahwa kesempurnaan agama baru sempurna ratusan tahun setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kedua : Berarti Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan para tabi’in dan juga para imam 4 madzhab semuanya telah meninggalkan sunnah mu’akkadah yang sangat penting ini !!!, padahal mereka begitu terkenal sangat bersemangat dalam beribadah !!?

Ketiga : Hal ini juga melazimkan bahwa orang-orang yang merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan amalan sunnah mu’akkadah dan juga telah meraih pahala yang terluputkan oleh Nabi, para sahabat, dan para imam madzhab.

(silahkan baca kembali “DIALOG ASWAJA – SYIAH vs WAHABI tentang BID’AH HASANAH“)

Diantara perkara yang menunjukkan bid’ahnya perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ternyata banyak kemungkaran-kemungkaran yang terjadi dalam perayaan maulid.

Karenanya tatkala ada sebagian ulama yang membolehkan perayaan maulid maka mereka menyebutkan cara perayaan yang benar, dan mereka mengingkari tata cara perayaan yang berisi banyak kemungkaran.

Diantara para ulama yang mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di perayaan maulid adalah Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah pendiri N.U. Bahkan beliau rahimahullah telah menulis sebuah risalah yang berjudul

التَّنْبِيْهَاتُ الْوَاجِبَاتُ لِمَنْ يَصْنَعُ الْمَوْلِدَ بِالْمُنْكَرَاتِ

(Peringatan-peringatan yang wajib terhadap orang-orang yang merayakan maulid Nabi dengan kemungkaran)

Meskipun Kiyai Muhammad Hasyim al-Asy’ari membolehkan merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi beliau meletakkan aturan-aturan dalam perayan maulid tersebut.

Beliau sungguh terkejut tatkala melihat orang-orang yang merayakan maulid Nabi telah melakukan kemungkaran-kemungkaran dalam perayaan tersebut, sehingga mendorong beliau untuk menulis risalah ini sebagai bentuk bernahi mungkar.

Beliau berkata di awal risalah beliau ini :

“Pada senin malam tanggal 25 Robi’ul awwal 1355 Hijriyah, sungguh aku telah melihat sebagian dari kalangan para penuntut ilmu di sebagian pondok telah melakukan perkumpulan dengan nama “Perayaan Maulid”.

Mereka telah menghadirkan alat-alat musik lalu mereka membaca sedikit dari Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang datang tentang awal sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang terjadi tatkala maulid (kelahiran) Nabi, demikian juga sejarah beliau yang penuh keberkahan setelah itu.

Setelah itu merekapun mulai melakukan kemungkaran-kemungkaran seperti saling berkelahi dan saling mendorong yang mereka namakan dengan “Pencak silat” atau “Box”, dan memukul-mukul rebana.

Semua itu mereka lakukan dihadapan para wanita ajnabiah (bukan mahram mereka-pen) yang dekat posisinya dengan mereka sambil menonton mereka.

Dan juga musik dan sandiwara cara kuno, dan juga permainan yang mirip dengan judi, serta bercampurnya (ikhtilatnya) para lelaki dan wanita.

Juga nari-nari dan tenggelam dalam permainan dan tertawa, suara yang keras dan teriakan-teriakan di dalam mesjid dan sekitarnya. Maka akupun melarang mereka dan mengingkari perbuatan kemungkaran-kemungkaran tersebut, lalu mereka pun buyar dan pergi”

Setelah itu Kiyai Muhammad Hasyim berkata :

“Dan tatkala perkaranya sebagaimana yang aku sifatkan dan aku takut perbuatan yang menghinakan ini akan tersebar di banyak tempat, sehingga menjerumuskan orang-orang awam kepada kemaksiatan yang bermacam-macam, dan bisa jadi mengantarkan mereka kepada keluar dari agama Islam, maka aku menulis peringatan-peringatan ini sebagai bentuk nasehat untuk agama dan memberi pengarahan kepada kaum mulsimin. Aku berharap agar Allah menjadikan amalanku ini murni ikhlas untuk wajahNya yang mulia, sesungguhnya Ia adalah pemilik karunia yang besar” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat  hal 10)

Tata Cara Perayaan Maulid :

Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah menyebutkan tentang tata cara perayaan maulid yang dianjurkan. Beliau berkata ;

“Dari perkataan para ulama… bahwasanya maulid yang dianjurkan oleh para ulama adalah berkumpulnya orang-orang dan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat khabar-khabar yang menjelaskan tentang permulaan sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi tatkala Nabi dalam kandungan dan kelahirannya, demikian juga setelahnya berupa sejarah/siroh beliau yang penuh keberkahan. Setelah itu diletakkan makanan lalu mereka memakannya lalu buyar. Jika mereka menambahkan dengan memukul rebana sambil memperhatikan kesopanan dan adab maka tidak mengapa” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 10-11)

Kemungkaran-Kemungkaran dalam Perayaan Maulid yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari

Diantara kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah :

Pertama : Bercampurnya (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan

Kedua : Diadakannya “strik” (semacam sandiwara cara kuno, wallahu a’lam, meskipun hingga saat ini penulis masih belum paham betul akan makna strik, jika ada diantara pembaca yang faham tolong memberi infonya kepada penulis)

Ketiga : Alat-alat musik, seperti seruling dan yang lainnya. Hanyalah  yang dibolehkan adalah rebana

Keempat : Mubadzir dalam mengeluarkan harta untuk perkara yang berlebih-lebihan dan tidak bermanfaat. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat 38-39)

Kelima : Joget atau tarian-tarian

Keenam : Nyanyian

Ketujuh :  Keasikan bermain sehingga lupa dengan hari kebangkitan. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 21)

Kedelapan : Jika tidak terjadi ikhtilat dan para wanita berkumpul sendirian maka ada kemungkaran-kemungkaran juga yang mereka lakukan seperti : Mengangkat suara keras-keras dalam mengucapkan selamat dan juga bergoyang-goyang dalam bernasyid, serta membaca al-Qur’an dan dzikir dengan cara membaca yang keluar dari syariat dan cara yang wajar. (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 22)

Demikianlah beberapa kemungkaran yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya tersebut.

Setelah itu beliau mengingatkan akan beberapa perkara:

Pertama : Merayakan maulid dengan cara melakukan kemungkaran-kemungkaran di atas merupakan bentuk tidak beradab kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan merupakan bentuk perendahan dan menyakiti beliau. Orang-orang yang merayakan melakukan hal ini telah terjerumus dalam dosa yang besar yang dekat dengan kekufuran dan dikhawatirkan mereka terken suul khootimah (kematian yang buruk).

Kalau mereka melakukan kemungkaran tersebut dengan niat merendahkan Nabi dan menghinanya maka tidak diragukan lagi akan kekufurannya. (Lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 44-45)

Kedua :  Karenanya tidak boleh merayakan maulid yang mengantarkan kepada kemaksiatan. Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari berkata :

فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ إِذَا أَدَّى إِلَى مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَرْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ

“Ketahuilah bahwasanya perayaan maulid jika mengantarkan kepada kemaksiatan yang jelas/kuat seperti kemungkaran-kemungkaran maka wajib untuk ditinggalkan dan haram perayaan tersebut” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 19)

Ketiga : Bahkan tidak boleh membantu terselenggarakannya perayaan maulid yang modelnya seperti ini.

Kiyai Muhammad Hasyi Asy’ari berkata :

وَإِنَّمَا كَانَ إِعْطَاءُ الْمَالِ لِأَجْلِهِ حَرَامًا لِأَنَّهُ إِعَانَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ، وَمَنْ أَعَانَ عَلَى مَعْصِيَةٍ كَانَ شَرِيْكاً فِيْهَا، وَكَذَلِكَ يَحْرُمُ التّفَرَجُّ ُعَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ لِأَنَّ الْقَاعِدَةَ : أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ حَرَامًا يَحْرُمُ التَّفَرُّجُ عَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ

“Mengeluarkan uang untuk perayaan maulid (yang bercampur kemungkaran-kemungkaran) menjadi haram dikarenakan hal ini merupakan bentuk membantu pelaksanaan maksiat. Dan barang siapa yang membantu terselenggaranya kemaksiatan maka ia ikut serta di dalamnya. Demikian juga haram untuk menyaksikan dan hadir dalam acara tersebut, karena kaidah menyatakan : “Setiap yang haram maka haram pula menyaksikan dan hadir di dalamnya” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 39)

Keempat :  Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari juga menyatakan bahwa seseorang yang melakukan perayaan maulid dengan melakukan kemungkaran-kemungkaran maka ia sedang bermuhaajaroh (menampakan terang-terangan) dengan kemaksiatan. (lihat At-Tanbiihaat hal 39-40)

Kelima : Beliau juga menyatakan bahwa orang yang melakukan maulid model demikian telah memiliki sifat orang munafiq. Beliau berkata ;

وَمِنْهَا أَنَّهُ اتِّصَافٌ بِصِفَةِ النِّفَاقِ وَهِيَ إِظْهَارُ خِلاَفِ مَا فِي الْبَاطِنِ إِذْ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ مَحَبَّةً وَتَكْرِيْمًا لِلرَّسُوْلِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَباَطِنُهُ أَنَّهُ يَجْمَعُ بِهِ الْمَلَاهِي وَيَرْتَكِبُ الْمَعَاصِي

“Diantara kerusakan-kerusakan maulid model ini adalah pelakunya bersifat dengan sifat kemunafikan, yaitu memperlihatkan apa yang berbeda dengan di dalam hati. Karena lahiriahnya ia melaksanakan maulid karena mencintai dan memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi batinnya ia mengumpulkan perkara-perkara yang melalaikan dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan” (At-Tanbiihaat hal 40)

Keenam : Wajib bagi seorang alim untuk mengingkari para penuntut ilmu yang melakukan kemungkaran-kemungkaran tersebut. Karena jika didiamkan maka orang awam akan menyangka bahwa cara merayakan maulid dengan kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah merupakan bagian dari syari’at. Padahal perkaranya adalah sebaliknya, justru mengantarkan pada penyia-nyiaan syari’at dan meninggalkannya. (lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 40-41).

Penutup :

Para pembaca yang budiman, meskipun penulis memandang akan bid’ahnya maulid akan tetapi taruhlah jika penulis mengalah dan menyatakan bahwa perayaan maulid dianjurkan (sebagaimana pendapat kiyai pendiri NU) maka marilah kita melihat kenyataan yang ada…

sungguh terlalu banyak perayaan maulid di negeri kita yang bercampur di dalamnya kemungkaran-kemungkaran yang telah diperingatkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari, seperti musik-musikan, nyanyian, ikhtilat lelaki dan wanita, mubadzir dalam makanan dan hias-hiasan.

Lagu kasidahan yang disenandungkan oleh suaru biduan wanita disertai musik diputar bahkan di dalam mesjid??!!.

Jika Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari mengingkari wanita mengangkat suaranya dalam rangka untuk mengucapkan selamat…

bahkan dalam hal membaca al-Quran dengan cara yang tidak wajar, maka bagaimana lagi jika suara merdu biduan wanita lagi nyanyi kasidahan??!!

Belum lagi kemungkaran-kemungkaran yang lebih besar yang tidak disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari seperti

–         Banyak pelaku maksiat (baik yang tidak pernah sholat, koruptor, bahkan pemabuk dan pezina, para artis tukang umbar aurat) begitu antusias untuk ikut andil dalam melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka menyangka bahwa perayaan inilah sarana yang benar untuk menyalurkan dan mengungkapkan kecintaaan mereka terhadap Nabi.

Akan tetapi jika mereka diajak untuk melaksanakan sunnah Nabi yang sesungguhnya maka mereka akan lari sejauh-jauhnya. Ini merupakan salah satu dampak negatif dari perayaan maulid Nabi, karena sebagian orang menjadi tidak semangat bahkan menjauh dari sunnah yang sesungguhnya karena bersandar kepada perayaan-perayaan seperti ini yang dianggap sunnah.

–         Sebagian mereka meyakini bahwa ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut hadir dalam acara maulid mereka

–         Sebagian mereka mensenandungkan bait-bait sya’ir puji-pujian terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah sebagian dari sya’ir-sya’ir tersebut ada yang mengandung makna berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana qosidah Burdah karya Al-Bushiri. Diantaranya perkataan Al-Bushiri:

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدَّنُيْاَ وَضَرَّتَها             وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Sesungguhnya diantara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat dan diantara ilmumu adalah ilmu lauhil mahfuz dan yang telah dicatat oleh pena (yang mencatat di lauhil mahfuz apa yang akan terjadi hingga hari kiamat)

Hal ini jelas merupakan kesyirikan dan menyamakan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah. Karena hanya Allahlah yang mengetahui ilmu lauhil mahfuz, pengucap syair ini telah mengangkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga pada derajat ketuhanan dan ini merupakan kekufuran yang nyata (lihat kembali “Berlebih-lebihan Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Hingga Mengangkat Beliau pada Derajat Ketuhanan“)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 04-05-1434 H / 16 Maret 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
http://www.firanda.com

Salah Faham istilah Salafy dan haroky

Banyak yang terbawa Arus dalam memahami suatu istilah yang mana istilah itu telah dilekatkan pada ormas atau golongan tertentu..
Misalnya istilah Wahabi..  orang kafir sukses melekatkan istilah wahabi yang penuh dengan kebathilan kepada Syeikh Abdullah bin Wahab, dimana beliau seorang Salafy…
Belum puas sampai disitu..  dibuat lagi istilah SALAFY WAHABI.. dengan karakteristik yang kasar,serampangan,rusuh dll..
Berakhir terkenalah istilah SALAFY dengan hal-hal yang tidak baik, seperti Salafy adalah suatu golongan, salafy adalah tukang meng kafir-kafirkan, tukang tuduh-tuduh orang, tukang pemecah belah…

Padahal kalau kita kembalikan maknanya dari istilah Salafy kepada makna sebenarnya dengan singkat saya katakan orang-orang yang mengikuti pemahaman salafusholeh

BAGAIMANA DENGAN ISTILAH HAROKY?

Istilah ini dalam bahasa Arab “Lisan Al `Arob” kata harokah (الحركة ) berasal dari Haruka (حرك) memiliki arti lawan dari kata diam (ضد السكون) atau tidak bergerak, yang berarti harokah adalah suatu gerakan.

Jadi dalam makna bahasanya ini.. tidak ada yang salah apabila kita terus bergerak berdakwah untuk kebaikkan khususnya Syi’ar Agama Islam.. ada yang bergerak dakwah dari mesjid ke mesjid, bergerak melalui Radio seperti Radio Rodja,TV Rodja dll..

Karena Isitlah ini telah melekat pada pemikiran kita yaitu kepada pergerakkan organisasi seperti IM,HT dll.. maka ketika kita ingat haroki maka yang diingat adalah organisasi Islam tersebut..

Maka kita kembalikan maknanya pada istilah yang sebenarnya.. namun untuk menjaga kesalah fahaman dari kalangan awam, maka tak perlu kita membuat istilah baru misalnya SALAFY HAROKY… mengapa?

Karena tanpa ditambah Haroky juga.. sifat dan karakteristik dari Salafy adalah berkepribadian MUTAHARRIK (Pergerakkan), Pergerakkan apa?
Pergerakkan diantaranya berdakwah untuk menyampaikan Sunnah..

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :
“Menyampaikan sunnah Nabi Shalallahu wa’alaihi wassalam kepada umat lebih utama daripada mengirimkan anak panah ke leher-leher musuh, karena mengirimkan anak panah dapat dilakukan oleh mayoritas manusia, sedangkan menyampaikan sunnah beliau tidak dapat ditunaikan kecuali oleh para pewaris Nabi dan khalifah umat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karamah dan nikmat-Nya”.

Jadi sekarang tidak ada lagi pemisahan antara Salafy dan Haroky..
apalagi seolah-olah keduanya merupakan golongan.. ini benar-benar bathil.. Dalam diri Salafy pasti ada haroky…
Sangat rancu dan lucu, apabila kita menyebutkan kalimat misalnya :
“Pergerakkan Islam diantaranya Salafy,HTI,Jama’ah Tabligh,NU dll”

Kalimat diatas benar-benar suatu pembodohan.. karena dianggapnya Salafy adalah nama suatu kelompok ormas…

Wallahu’alam

Solusi Mengatasi Kesulitan dengan SUNNAH

Orang miskin akan dapat kesulitan dari kemiskinannya
Orang Kaya akan dapat kesulitan dari kekayaannya

Mengaku Salafy akan dapat kesulitan dari ke salafy annya
Mengaku Haraky akan dapat kesulitan dari ke haraky an nya

Diantara mereka ada yang BERUNTUNG DAN BINASA dalam kehidupannya.. MENGAPA?
Karena cara-cara menangani kehidupannya itu TIDAK MENGAMALKAN SUNNAH..
—Loh apa hubungannya kesulitan dengan ‘amalan Sunnah?
saya kasih 2 contoh ya:
1. ‘Amalan Sunnah dalam menyikapi saudara kita yang terkena kesalahan adalah MENCARI ALASAN BAIK atas perbuatannya itu.
Nah kalau pake sikap maksiat seperti berbuat Mengkafir-kafirkannya, membid’ah-bid’ahkannya,merendahkannya, Unfriend,remove,block tanpa penjelasan sehingga hal itu menyakiti saudara kita.. MAKA BERSIAPLAH DENGAN KEBINASAAN.. diantaranya orang lain akan membenci kita, MISKIN ILMU dan AKHLAK karena kita secara tidak sadar merasa paling benar…

Berkata Abu Qilabah Abdullah bin Zaid Al Jurmy sebagaimana dalam kitab “Al Hilyah” karangan Abu Nu’aim (2/285):

“Bila sampai kepadamu sesuatu yang kamu benci dari saudaramu, maka berusahalah untuk mencarikan alasan untuknya, jika kamu tidak menemukan alasan untuknya, maka katakanlah dalam hatimu: mungkin saja saudaraku punya alasan yang aku tidak mengetahuinya”. [Sumber : Markaz download Abu Salma]

2. ‘Amalan Sunnah menghadapi kesulitan, diantaranya berdo’a dengan do’a yang dipakai oleh Rasulullah dan para sahabatnya//
Nah kalau kita melakukannya dengan mendatangi DUKUN,DZALIM terhadap orang lain.. maka Bersiaplah KESULITAN LANJUTAN akan didapatkan akibat dari dosa kita..

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
Likulli ‘amalin Syirrotun, Walikulli Syirrotin Fatrotun
Faman Kaanat Fatrotuhu ila Sunnatii Faqod Aflaha
Waman Kaanat Ila Ghoiri Dzalika Faqod Halaka
Artinya:
“Setiap ‘Amal itu memiliki Kesulitan, dan setiap kesulitan itu memiliki jeda. Barang Siapa yang jeda waktunya kepada sunnahku, maka sungguh ia telah BERUNTUNG, dan barang siapa yang kepada selain itu maka ia telah BINASA” [HR,Ahmad 2/188, Shahih]

Wallahu’alam

KONSISTENLAH JADI AHLI TSABAT

MAUKAH JADI AHLI TSABAT?

Ahli Tsabat adalah mereka yang konsisten diatas kebenaran, dimana jika mereka menyatakan janji untuk menuju seorang Ahlu Sunnah sebagai pecinta kebenaran, maka dalam perbuatannya pun KONSISTEN,melaksanakan apa yang telah diketahuinya dari petunjuk.

Terkadang kita tidak konsisten,ketika hijrah ke Ahlu Sunnah, tapi Janjinya itu di jegal oleh Syetan laknatullah di jalan kebaikkan dengan MEMBUAT ALASAN.
Misalnya :

Aku masih memotong jenggot, karena aku masih belajar agama, Padahal Pengetahuan tentang itu sudah sampai kepadanya

Aku masih Isbal, karena aku masih belajar agama, Padahal Pengetahuan tentang itu sudah sampai kepadanya

Semuanya ditutupi dengan ALASAN yang menutupinya hingga menjadi penyakit dalam hati.. Allah ta’ala menutup hatinya dengan Alasan yang semakna dari itu.. hingga Cahaya Nya pun tidak pernah masuk dalam relung hatinya.

Mari kita renungkan Firman Allah ta’ala :


“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)” [al-Ahzab : 23]

Biasanya Tipe/sifat seperti ini dalam hatinya masih goyah,ragu, apalagi jika pemahaman disandarkan pada oknum seseorang, bukan pada Ajaran.
Hal ini telah dijelaskan dalam Firman Allah ta’ala:


Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya ” [an-Nisa: 143]

Sungguh merugi wahai yang masih ragu.. ketika dilemparkan ke neraka ,malaikat akan berkata :


hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?“[Al Mulk : 8]

Coba kita renungkan, mau menjawab apakah kita nanti? Tidak bisa kita membuat Alasan seperti halnya di dunia..
Sungguh Ilmu telah diterima, Hijrah sudah dinyatakan.. KONSISTENSI harus kita Tanamkan, sehingga kita masuk sebagai AHLI TSABAT.

Mari kita lemparkan identitas kita dijaman kegelapan..
Pakailah baju muslim, agar selalu teringat kepada Nya
Biarkanlah jenggot panjang, untuk mengharap Ridha Nya
Potonglah celana menjadi diatas mata kaki, untuk mengharap Ridha Nya.
Tunduklah diatas Ilmu yang haq..

Wallahu’alam

Hukum Menyanyi

Dalam Fatawa Islamiyah al Lajnah Ad-Da’imah (4/532-534)  dinyatakan sebagai berikut:

“Namun lebih baik seseorang menghindari hal-hal yang membawanya kepada keburukkan dengan membaca Al-Quran, mengingat Allah dan mengamalkan hadits-hadits Nabi karena sesunggunya hal itu lebih besar dan lebih suci bagi jiwa serta lebih menguatkan dan menenangkan hati sebagaimana firman Allah :

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya” (Az-Zummar : 23)

 

” orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. ” (Ar-Ra’d: 28-29)

Sudah menjadi kebiasaan para sahabat untuk menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai penolong mereka dengan cara menghafal,mempelajari serta mengamalkannya. Selain itu mereka juga memil;ki nasyid-nasyid dan nyanyian yang mereka lantunkan seperti saat mereka menggali paritKnhandaq, membangun masjid-masjid dan saat mereka menuju medan pertempuran (jihad) atau pada kesempatan lain di mana lagu itu dibutuhkan tanpa menjadikannya sebagai syiar atau semboyan, tetapi hanya dijadikan sebagai pendorong dan pengobar semangat juang mereka

Sedangkan genderang dan alat-alat musik lainnya tidak boleh dipergunakan untuk mengiringi nasyid-nasyid tersebut karena Nabi Shalallahu Wa’alaihi Wassalam dan para sahabatnya tidak melakukan hal itu. Semoga Allah menunjukkan kita kepada jalan yang lurus. Shalawat serta salam semoga dilimpaghkan kepada Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya”

[Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 3,hal: 127,Penerbiy: Darul Haq]

Wallahu’alam

Solusi Fenomena Keringnya Agama Umat Islam

Fenomena perilaku manusia sekarang menjadi Tamparan keras untuk para kiyai,habib,ustadz,ajengan,Ormas Islam..

Kurangnya da’i di setiap pelosok berakibat fatal terhadap kehidupan umat, terutama dalam hal agama.
Kalau yang saya amati solusi untuk hal ini adalah

– Dirikan pesantren di setiap desa atau kampung, tempatkan 1 orang Ustadz/kiayi disana,beri penghasilan bulanan dan beri rumah ditempat dia tinggal
– Ganti para da’i yang tidak berkwalitas di Televisi dengan para asatidz, kiyai yang sudah mumpuni Ilmunya
– Ganti cara berdakwah di televisi yang terkesan hanya bisa “ngomong” saja
– Setiap Pengajian rutin, wajib harus punya pencapaian kepada peningkatan keimanan umat, jangan hanya seremonial saja
– Program pengetahuan Umum keadaan umat baik dalam maupun luar negeri seputar Islam harus disampaikan
– Gaungkan program Tahfidz plus tafsirnya.
– Ustadz/kiayi harus punya kemampuan menjadi pengarah usaha dibidang masing-masing,misal di daerah laut, diberikan kemampuan ilmu usaha dibidang berikanan, untuk daerah pertanian pun begitu…
– Gerakan diatas harus terstruktur dengan koordinasi yang baik untuk seluruh Indonesia.
– Program dakwah tauhid Wajib menjadi perhatian. dalam materi ini sangat sedikit perselisihan diantara ulama

Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak terkait yang punya kemampuan kapasitas dalam solusi-solusi diatas

Wallahu’alam

ditulis oleh Abu Nuralif